Sajak Tak Bertuan

Tak tahu akan ku tujukan ke siapa barisan kata ini

Entah ku alamatkan ke mana serpihan rasa ini
Yang jelas, aku hanya ingin menulis!
Untuknya,
Yang masih dalam tanya…

“Kidung Penantian”

percik-percik rindu menerpa hati yang merayu
menggoda angan yang mencumbu syahdu
akulah pemilik rasa itu,
rasa yang mampu menyeret kesadaranku
merembesi serat-serat ruang dan waktu
tak usah cemas menggelayutimu
aku masih sanggup mengendalikan, tanpa harus membunuhnya
aku bisa merawat, tanpa harus membesarkannya
inilah cinta sederhana, dari orang sederhana

lihatlah..
musim semi telah tiba
bunga-bunga cinta bermekaran. tersenyum, menyapa hati yang kasmaran
dengarlah…
bisik rerumputan di pelataran
yang inginkan,
agar kau dan aku menjadi kita
lalu bersama, memadu jalinan suci penuh berkah

biar ku renda hari bersama rindu
sembari menunggumu di batas waktu
jemariku tak kan pernah lelah merangkai untaian kasih untukmu
penaku tak kan pernah kering menuliskan syair cinta buatmu
seperti burung yang tak pernah jemu menyenandungkan lagu rindu untuk kekasihnya
tak kan ada hentinya,
hingga kau menuntunku menuju nirwana
ah, bumi ini terlalu sempit untuk kita nikmati berdua
hidup ini terlalu singkat untuk kita miliki selamanya

aku ingin kau tahu
untukmu, ada sebentuk cinta
yang selalu ku jaga
agar tetap suci tak ternoda

nanar mataku menyorot pendar bulan yang kian memudar
wajahnya terlihat pucat
sepucat bebintang yang kini sekarat
sementara desau angin tersedu, menangis pilu
menemaniku, yang terkurung di penjara sang waktu
biarpun jiwa merintih dan langkah tertatih
tak letih, ku kejar bayangmu yang tak bertepi
dan malam pun semakin ringkih
tapi, masih terlalu pagi untuk bangun dari mimpi

wahai, kau…
yang merampas segenap perhatian
sampai kapan namamu menjadi tebakan
mungkinkah, dalam gerimis hati, ku temukan jawaban?

wahai, kau…
yang mampu nyalakan lentera inspirasi
buatku, kau tetap menjadi misteri
Tuhan, adakah dia peduli
akan semua rasa ini?

seperti tanah tandus yang rindukan hujan
ku tunggu kabarmu yang masih diam

Habis Sudah...

maaf,
Mulutku letih

Katakataku habis
setelah kubuat curhat denganNya semalaman

Mataku bengkak
Air mata pun terkuras
setelah kutangisi diriku yang bergelimang dosa
dan berlumur kesalahan

Penaku mati
Tintanya kering
setelah kucoreti lembarlembar kehidupanku dengan penyesalan
serta do'a pengharapan

Habis sudah...
Maaf

"NYANYIAN MAUT"

nyawaku lelah. nafasku ingin istirahat. jantungku ingin berhenti berdetak. nadiku ingin diam barang sejenak. darahku tak ingin lagi mengalir. dan jiwaku, kasian..dia letih sekali. ruhku ingin lepas dari ragaku. dia ingin bebas, terbang melayang bersama angin tuk sampaikan aku padaNya.

rinduku menggebu. hasratku membara. hatiku bergetar. genderang izrail telah ditabuh. suaranya memukul remuk sukma, menabur kepedihan di mana-mana. untuk beberapa saat kurasakan sekarat yang begitu dahsyat! sakit yang teramat sangat! genderang maut terus ditabuh. bertalu-talu. menggema di segala penjuru. mencabik-cabik ragaku. menghempaskan jiwaku.

Plaasss...ruhku terlepas! tubuhku kaku. darahku membeku. gelap....di mana aku? untuk sejenak penderitaanku tadi berlalu. tak ku rasakan apapun selain bau tanah yang menusuk hidungku. tak ku dengar lagi hingar-bingar genderang bergemuruh. hanya senandung gagak yang menyayat bak sembilu. berpadu dengan isakan tangis bernada pilu. serta lantunan ayat-ayat cintaNya yang terdengar begitu merdu dan sayu. perlahan, suara-suara itu memudar. bumi serasa berhenti berputar. ku dengar derap langkah yang kian menjauh. meninggalkanku...

sepi...sunyi...kini, tinggallah aku sendiri di samping gundukan tanah bertabur bunga, dan dua papan tertancap di ujungnya, bertuliskan nama......ahh, tiba-tiba saja aku ingin menangis. namun, belum sempat air mataku keluar, ku lihat dua makhluk bertampang sangar, dengan cambuk dan godam yang begitu besar, sedang menantiku di bawah sana...

Rabb...inikah saatnya?

"TAQDIR"

ku hanya punya rencana, tapi Kau yang menggariskan

ku hanya miliki harapan, tapi Kau yang menentukan

Ku bisa berkhayal, namun bukan nyata

ku dapat mereka-reka, namun tak pasti

ku mau yang ini, tapi dapatnya yang itu

ku ingin begini, nyatanya begitu

ku hendak ke sini, eh...malah ke situ

aku bingung...

pusing...

achh...

ku tanya pada langit, tapi dia bilang entah

ku tanya pada bumi, tapi dia bilang mungkin

lalu, ku tanya lagi pada hewan, tumbuhan, manusia..mereka geleng-geleng kepala

jin dan malaikat pun ikut-ikut angkat bahu

semuaa...tak tahu!

katakan padaku, apa kau tahu?

"SECERCAH CITA DAN HARAPAN"

aku ingin berkelana, tuk cari apa yang aku cari. hilang ditelan hari. meraba diri di kegelapan malam. ratusan hari aku jalani. ribuan malam aku menanti. demi datangnya cahaya, sinarMu untukku.

dengan kakiMu aku melangkah. dengan tanganMu ku singkirkan semua penghalang. aku buta! tak kenal detik, jam, hari, sampai tahun berganti.

ku coba buka pintu akallu. mencari yang tersisa. tapi, yang kutemui apa?! kosong....memory yang ku rekam telah kusam. lilitan di otak besarku kusut berhamburan. kini ia tak mampu lagi menampung apa itu IQ, EQ, atau SQ. semua....buntu!

ku tanya pada telinga, tapi ia tak mendengar. ku tanya lagi pada mata, namun ia tak melihat. dan ku tanya lagi pada lidah dan mulut, tapi mereka bungkam, diam seribu bahasa. aku tak meyerah. ku yakin cahaya itu pasti kan datang! waktu lah yang akan menjawab. tapi waktuku tak kan lama lagi. karena hari terus berganti.

sisa umurku berkurang sejengkal demi sejengkal. telah ku temui malu. telah ku kenal rindu. impianku terhanyut waktu. pikiranku diterjang waktu. kasihku dihempas waktu. rinduku ditelan waktu. namun cintaku, tak kan usang dimakan waktu.

jika masih ada sisa umurku, kan ku ketuk pintu maafMu. agar ku peroleh syahidMu. saat nyawa meregang, dan gerbang mautMu terbuka lebar tuk masukkan aku ke rumah masa depan.

jika masih ada sisa umurku, kan ku sembahkan amal terindah untukMu. agar kau tahu bahwa aku sangat mencintaiMu, dan tak ingin jauh dariMu. tak ada pujian untuk yang ini maupun yang itu. kau pantas untuk dikagumi karena kesempurnaan yang Kau miliki. kepunyaanMu lah segala bentuk pujian dan sanjungan atas segala yang ada.

kini, masaku telah berlalu. kan ku songsong hari baru, dengan secercah cita dan harapan. tuk jadi yang terbaik di sisiMu...

"HANYA KAU DAN AKU"

dalam sepi, ku merajut sunyi

dalam sepi, ku tulis sebuah puisi

sepi...

hanya ada Kau, dan aku...

apalah arti sepi? penuh misteri dan teka-teki. ada apa dengan sepi? hanya rahasiaNya yang etrsembunyi.

ku suka sepi, karena dalam sepi, ku leluasa memuja kebesaranMu tanpa ada seoarang pun yang merasa iri akan pujian atasMu. dalam sepi, ku bebas berteriak memanggil asmaMu tanpa seorang pun yang tahu. dalam sepi, ku leluasa beribadah tanpa ada riya' yang menodai kalbu. dalam sepi, ku tersenyum, menangis, menjerit, saat mengingatMu tanpa ada seorang pun yang membuatku malu. dalam sepi, ku bebas mencurahkan isi hatiku dan keluh kesahku tanpa seorang pun yang mengetahui rahasia antara Kau, dan aku.

sepi....

hanya ada Kau, dan aku....

meski seluruh dunia membenciku, cukuplah setitik cintaMu bagiku. meski seisi bumi mengacuhkanku, cukuplah setetes rahmatMu tuk hapuskan dahaga jiwaku. cukup Kau saja dalam hidup dan matiku. cukup Kau saja yang selalu ku rindu.

sepi...

hanya ada Kau, dan aku....

Tidak Melihat calon istri karena ingin Ikhlas

Dear Jjingga…

Dalam sebuah buku, kudapati pernyataan semacam ini:

“Saya ingin ikhlas ketika menikah. Karenanya… saya memutuskan tidak melihat wajah istri ketika kami berproses.” (Catatan Hati Seorang Istri hlm.13)

Pernyataan dari seorang ikhwan ini aku dapatkan dalam buku Catatan Hati Seorang Istri yang disusun oleh Asma Nadia. Menurut pengakuan Asma Nadia dalam bukunya itu, dia mendengar langsung dari ikhwan yang—masih menurut Asma Nadia—merupakan aktivis dakwah senior.

Dalam buku itu, sang ikhwan mengaku tidak mencintai istrinya. Namun yang mengherankan Asma Nadia, mengapa bisa tidak mencintai tetapi memiliki anak sampai empat?

Ah, beginikah profil aktivis dakwah yang selalu menyerukan Islam?

Sekilas, pernyataan ikhwan yang ingin ikhlas ketika menikah sebab itu dia memutuskan untuk tidak melihat wajah calon istrinya terkesan sungguh hebat. Mengaggumkan!

Padahal, pernyataan itu menunjukkan kejahilan (kebodohan) ikhwan tersebut. Bagaimana mungkin dia bisa berpendapat seperti itu, sedang dalam sebuah riwayat yang disampaikan Ibnu Majah dari sumber Al-Mughirah bin Syu'bah ra., bahwasanya (ketika) ia meminang seorang perempuan, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, “Lihatlah dia, karena yang demikian itu lebih bisa menjamin kelanggengan hubungan di antara kalian berdua.”

Dalam riwayat lainnya, Rasullullah bersabda, “Apabila seorang dari kalian meminang perempuan, maka jika memungkinkan melihat kepada apa yang mendorongnya untuk menikahnya, maka lakukanlah, sebab yang demikian itu lebih bisa menjamin kelanggengan hubungan di antara mereka berdua” (Hadits tersebut dinilai shahih oleh Al-Hakim yang bersumber dari hadits Jabir ra., Imam Ahmad, At-Turmudzi, An-Nasa'I.)

Aku kemudian menjadi bertanya-tanya, apa saja yang dipelajari ikhwan itu dalam halaqoh, sampai-sampai bisa tak mengetahui hadis Rasulullah itu? Melihat calon istri merupakan salah satu yang disyariatkan ketika laki-laki ingin menikah. Lalu apa yang selama ini didakwahi oleh ikhwan tersebut?

Seorang teman akhwat yang tergabung dalam salah satu harokah di Malang becerita sikap guru ngajinya. Teman akhwat itu memiliki kecendrungan kalau tak ingin disebut jatuh cinta kepada seorang ikhwan di lingkungan dakwahnya. Lantas dia memberikan biodata pada guru ngajinya. Berdasarkan pengakuan akhwat Malang itu, telah menjadi rahasia umum di lingkungan mereka, apabila akhwat atau ikhwan diketahui memiliki kecenderungan satu sama lain, maka para guru ngaji itu tak akan mempertemukan mereka, atau tak akan menukar biodata mereka. Guru ngaji itu akan mencarikan calon lainnya dengan alasan menjauhkan akhwat dan ikhwan itu dari fitnah (ujian).

Duhai Jingga, sungguh mengherankan sikap guru ngaji yang semestinya tak perlu kita tanyakan lagi kealimannya. Sebab hanya ahlul ilmi saja yang boleh menjadi guru ngaji. Sehingga siapapun yang dikatakan guru ngaji, mestinya termasuk ke dalam golongan ahlul ilmi. Atau para alim.

Namun, sikap guru ngaji itu sungguh menunjukkan sebesar-besarnya kejahilan. Karena disebutkan melalui Thawus melalui ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah telah bersabda, “Belum pernah ada obat yang terlihat mujarab bagi dua orang yang jatuh cinta, selain nikah.”

Apabila guru ngaji itu mengaku menjalankan syarian Rasulullah, tentunya dia akan mencarikan jalan agar akhwat dan ikhwan yang saling jatuh cinta itu sesegera mungkin dapat menikah agar tak terjadi fitnah.

Bahkan, Rasulullah mengancam para wali yang enggan menikahkan anaknya ketika datang seorang lelaki yang baik agamanya datang meminang anak perempuannya, dan anak perempuan itu juga telah menyukai lelaki yang datang meminang itu. Rasulullah pernah bersabda, “Apabila seseorang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya datang kepadamu untuk melamar, maka kawinkahlah ia (dengan puterimu), jika tidak, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi ini.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dengan sanad hasan).

Begitulah Jingga... justru sikap guru ngaji itulah yang akan menjadi penyebab timbulnya fitnah. Karena bukan tak mungkin, akhwat dan ikhwan yang saling jatuh cinta itu menjalin hubungan di luar pernikahan. Maafkan aku bila dalam tulisan ini, kau merasakan emosiku. Bagaiman aku tiada emosi Jingga, bagaimana mungkin ada aktivis dakwah dan guru ngaji yang tidak paham dengan syariat Islam. Lalu, apa yang mereka ajarkan kepada binaan mereka? Ah, mungkin karena kebanyakan orang berislam dengan akal dan perasaannya, bukan dengan hujjah atau dengan dalil dari al-Qur’an atau as Sunnah sesuai pemahaman para sahabat, tabi’in, serta tabiut tabi’in. Sehingga nilai kebenaran menjadi sangat relatif. Tergantung dengan akal siapa yang dipakai, tergantung perasaan siapa yang merasa. Wallahua’lam bishshowab.

PINTU




apakah kamu melihat kunci yang dahulu

pernah kauberikan kepadaku?

daun pintu itu hanya bisu
tak mau menjawab pertanyaanku

jarum jam yang berserakan di halaman waktu
tak mampu mengembalikan masa

dengan apa aku harus membuka pintu rinduku
agar aku bisa masuk ke dalammu