Dear Jjingga…
Dalam sebuah buku, kudapati pernyataan semacam ini:
“Saya ingin ikhlas ketika menikah. Karenanya… saya memutuskan tidak melihat wajah istri ketika kami berproses.” (Catatan Hati Seorang Istri hlm.13)
Pernyataan dari seorang ikhwan ini aku dapatkan dalam buku Catatan Hati Seorang Istri yang disusun oleh Asma Nadia. Menurut pengakuan Asma Nadia dalam bukunya itu, dia mendengar langsung dari ikhwan yang—masih menurut Asma Nadia—merupakan aktivis dakwah senior.
Dalam buku itu, sang ikhwan mengaku tidak mencintai istrinya. Namun yang mengherankan Asma Nadia, mengapa bisa tidak mencintai tetapi memiliki anak sampai empat?
Ah, beginikah profil aktivis dakwah yang selalu menyerukan Islam?
Sekilas, pernyataan ikhwan yang ingin ikhlas ketika menikah sebab itu dia memutuskan untuk tidak melihat wajah calon istrinya terkesan sungguh hebat. Mengaggumkan!
Padahal, pernyataan itu menunjukkan kejahilan (kebodohan) ikhwan tersebut. Bagaimana mungkin dia bisa berpendapat seperti itu, sedang dalam sebuah riwayat yang disampaikan Ibnu Majah dari sumber Al-Mughirah bin Syu'bah ra., bahwasanya (ketika) ia meminang seorang perempuan, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, “Lihatlah dia, karena yang demikian itu lebih bisa menjamin kelanggengan hubungan di antara kalian berdua.”
Dalam riwayat lainnya, Rasullullah bersabda, “Apabila seorang dari kalian meminang perempuan, maka jika memungkinkan melihat kepada apa yang mendorongnya untuk menikahnya, maka lakukanlah, sebab yang demikian itu lebih bisa menjamin kelanggengan hubungan di antara mereka berdua” (Hadits tersebut dinilai shahih oleh Al-Hakim yang bersumber dari hadits Jabir ra., Imam Ahmad, At-Turmudzi, An-Nasa'I.)
Aku kemudian menjadi bertanya-tanya, apa saja yang dipelajari ikhwan itu dalam halaqoh, sampai-sampai bisa tak mengetahui hadis Rasulullah itu? Melihat calon istri merupakan salah satu yang disyariatkan ketika laki-laki ingin menikah. Lalu apa yang selama ini didakwahi oleh ikhwan tersebut?
Seorang teman akhwat yang tergabung dalam salah satu harokah di Malang becerita sikap guru ngajinya. Teman akhwat itu memiliki kecendrungan kalau tak ingin disebut jatuh cinta kepada seorang ikhwan di lingkungan dakwahnya. Lantas dia memberikan biodata pada guru ngajinya. Berdasarkan pengakuan akhwat Malang itu, telah menjadi rahasia umum di lingkungan mereka, apabila akhwat atau ikhwan diketahui memiliki kecenderungan satu sama lain, maka para guru ngaji itu tak akan mempertemukan mereka, atau tak akan menukar biodata mereka. Guru ngaji itu akan mencarikan calon lainnya dengan alasan menjauhkan akhwat dan ikhwan itu dari fitnah (ujian).
Duhai Jingga, sungguh mengherankan sikap guru ngaji yang semestinya tak perlu kita tanyakan lagi kealimannya. Sebab hanya ahlul ilmi saja yang boleh menjadi guru ngaji. Sehingga siapapun yang dikatakan guru ngaji, mestinya termasuk ke dalam golongan ahlul ilmi. Atau para alim.
Namun, sikap guru ngaji itu sungguh menunjukkan sebesar-besarnya kejahilan. Karena disebutkan melalui Thawus melalui ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah telah bersabda, “Belum pernah ada obat yang terlihat mujarab bagi dua orang yang jatuh cinta, selain nikah.”
Apabila guru ngaji itu mengaku menjalankan syarian Rasulullah, tentunya dia akan mencarikan jalan agar akhwat dan ikhwan yang saling jatuh cinta itu sesegera mungkin dapat menikah agar tak terjadi fitnah.
Bahkan, Rasulullah mengancam para wali yang enggan menikahkan anaknya ketika datang seorang lelaki yang baik agamanya datang meminang anak perempuannya, dan anak perempuan itu juga telah menyukai lelaki yang datang meminang itu. Rasulullah pernah bersabda, “Apabila seseorang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya datang kepadamu untuk melamar, maka kawinkahlah ia (dengan puterimu), jika tidak, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi ini.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dengan sanad hasan).


1 komentar:
26 Maret 2011 pukul 06.12
like this, sebuah renungan buat aktivis dakwah yang kadang-kadang dibutakan oleh loyalitas pada guru, dan membohongi diri sendiri.
Posting Komentar